Kuliner ke Warung Daun
Sudah lama juga tidak posting. Sebenarnya bukan sudah jarang membuat kue, masih kok hanya saja tidak serutin sebelumnya yang bisa setiap minggu. Masalah standart yaitu soal waktu yang terbatas. Apalagi semenjak kedatangan 2 keponakan lucuku. Kalau dulu masih bisa nyempet-nyempetin buat kue pagi hari sebelum ke kantor buat bagi-bagi di kantor, sekarang harus mengantar Echa-keponakanku ke sekolah, jadi waktu untuk buat kue terpakai dech. Tapi tetap senang sich mengingat besarnya rasa sayangku pada anak-anak kakak tertuaku yang sementara harus berpisah dari ibu-nya yang harus bertugas di luar kota itu. Postingan kali ini aku mau cerita soal pengalaman kulinerku saja ya. Tadi malam, aku dan keluarga besarku pergi makan malam bersama dalam rangka merayakan ulang tahun papaku. Papa juga sebenarnya berulang tahun pada tangal 11 September 2006, namun karena menunggu kedatangan kakakku dari Jambi maka acara makan-makannya ditunda dulu. Baru terwuud hari Selasa tepatnya tadi malam itu.
Sore hari setelah ditelpon sama mamaku yang memintaku memutuskan mau makan dimana asalkan tidak tempat yang biasa kami kunjungi atau tidak jauh-jauh, alias ditengah-tengah antara rumahku dan kantorku. Agak panik juga soalnya mama telponnya sudah dekat-dekat waktu magrib, paniklah aku ditanya mau makan kemana. Alhasil setelah tanya-tanya teman dapat beberapa rekomendasi di daerah Santa (Wolter mongonsidi dan sekitarnya).
Karena daerah Santa itu lumayan dekat dari kantorku, aku datang lebih awal, sambil mutar-mutar siapa tau menemukan tempat makan yang menarik, ternyata semua masuk biasa-biasa saja, karena aku sempat turun melihat-lihat beberapa rumah makan. Akhirnya kuputuskan menunggu di “Warung Daun” saja seperti rekomendasi teman kantorku yang menurut temanku lumayan namun cukup mahal. Mahal asal sesuairasa aku pikir bukan masalah.
Namun rupanya pradugaku melenceng agak jauh. Ternyata (menurut lidah ku lho), antara rasa dan harga kurang seimbang. Bayangkan kami sekitar 12 orang dewasa dan 2 orang anak kecil totalnya menghabiskan uang sekitar Rp. 1.000.000,-! Sedangkan bila dibandingkan dengan rasanya, bukan tidak enak, tapi kurang ‘nendang’ dan kurang ‘mak nyes’ untuk ukuran masakan mahal. Memang menu yang kami pesan bervariasi namun menurutku tetap kurang sebanding. Menu yang kami pesa antara lain ikan gurame bakar bumbu pedas, ikan gurame bakar kecap manis, ikan gurame goreng 2 buah, udang bakar 2 porsi, ayam goreng rempah 4 potong, cumi goreng tepung 2 porsi, cah kangkung belacan 1 porsi, tumis genjer 2 porsi kecil, sayur asem 2 porsi, karedok 1 porsi, lalapan 1 porsi samba khas Wadung daun, dan minuman juice untuk 12 orang.
Dari segi rasa, ikan bakar bumbu nya kurang terasa, rempahnya dan bumbunya kurang mantab, ikan gorreng guramenya juga kurang kering digorengnya, kecil lagi ukurannya. Sayur asemnya kurang enak, bahkan rasanya cenderung anyep mendekati hambar bukan asem seperti namanya, yang lumayan tumis genjer oncom, tapi dibandingkan milik ‘Dapur cobek-Bandung” tidak ada apa-apanya sich. Cah kangkungnya lumayan juga, tapi sambal balacannya agak asin, karedoknya buatku lumayan enak, paling tidak memberikan adanya “rasa” di lidah dibandingkan menu-menu yang lain, itu-pun aku dapat sisa-sisa setelah habis dilahap keluargaku mengingat hanya pesan 1 porsi saja. Kalau ayam goreng rempahnya menurut adikku asin dan kurang rasanya, begitu juga dengan cumi goreng tepungnya, jangan-jangan yang masaknya mau kawin hehehe…
Paling tidak minuman yang aku pesan dan berbeda dari tempat manapun biasanya lumayan menghibur rasa kecewaku. Aku memesan Belberry juice, yaitu campuran antara belimbing dan strobery. Hummm..nikmat dan melegaka rasa haus (apa karena aku memang haus karena harus menunggu keluargaku?hihihi). Satu lagi yang mengobati rasa kecewaku (atau kami sekeluarga yach?), yaitu bonus beras organik sebanya 8 kg karena melakukan pembelian makanan kelipatan Rp 500.000,-. Lumayan, secara beras organik harganya cukup mahal dibandingkan beras biasa.
Penilaian diatas berdasarkan lidahku dan keluarga secara subjektif, karena lain orang bisa lain lidah tentunya akan lain penilaian. Jadi, aku tidak bisa mengatakan kalau RM. Warung Daun tidak enak untuk semua lidah orang. Kecuali aku pergi makannya dengan orang-orang yang bukan keluargaku, dimana kalau bukan dari garis keturunan dan kebiasaan makan yang berbeda hari-harinya, untuk selera juga pasti berbeda. Namun biasanya, seleraku dan teman-temanku juga tidak jauh berbeda, so..bisa artikan sendirikan?
Saranku sich, kalau ingin makan jenis masakan Sunda, better choose another recommendation dech! Salah satu yang paling aku rekomendasikan hanya saja agak jauh untuk orang Jakarta adalah “Dapur Cobek”. Sampai sekarang aku masih terkangen-kangen sama “Genjer cah oncomnya” yang benar-benar nikmat menggoyah lidah. Hummm…jadi ingin kembali ke Bandung….









